Melawan narasi manipulatif dengan fakta, empati, dan kreativitas — bukan kebencian.
Kontra propaganda bukan tentang membalas kebencian dengan kebencian, melainkan mengungkap manipulasi, menawarkan narasi alternatif, dan memberdayakan masyarakat untuk berpikir kritis.
Dalam konteks isu seperti "17+8", kontra-propaganda berarti:
Ganti narasi emosional dengan konten edukatif: infografis, video singkat, atau thread Twitter yang menjelaskan fakta hukum, sejarah, dan dampak sosial dari suatu isu.
🎯 Contoh: "Apa arti '17+8' secara hukum? Simak penjelasan dari ahli hukum tata negara."
Ciptakan narasi positif: persatuan, keadilan, dan kepedulian sosial. Gunakan tokoh masyarakat, seniman, atau influencer untuk menyebarkan pesan damai.
🎯 Contoh: "Mari fokus pada solusi, bukan perpecahan. Kita semua ingin Indonesia yang adil dan damai."
Identifikasi teknik seperti name calling, bandwagon, atau glittering generality, lalu bongkar dengan logika dan data.
🎯 Contoh: "Jangan sebarkan label 'musuh rakyat' tanpa bukti. Itu adalah teknik Name Calling."
Buat konten yang mudah dibagikan: Reels, TikTok, carousel Instagram, atau meme edukatif yang menyampaikan pesan kritis tanpa menyudutkan.
🎯 Contoh: Video 30 detik: "3 Cara Mengenali Propaganda di Medsos".
Konten di media sosial yang melakukan edukasi Kontra Propaganda.
Konten ini dapat menjadi sumber pegetahuan untuk melawan konten, akun dan narasi yang melemahkan aspirasi kita.
bijakmengawal
Posted 2 hours ago
Awas, jangan terjebak Name Calling! 🚫
Teknik propaganda ini memberi label negatif tanpa bukti. Selalu tanyakan: "Apa buktinya?" sebelum mempercayai suatu informasi.
#BijakMengawal #LawanPropaganda #NameCalling
Bagikan pengetahuan ini. Edukasi teman dan keluarga. Lawan kebencian dengan kebenaran.
Dukung Literasi Media